A.
Pengertian Komik
Gambar sebagai
salah satu media komunikasi visual memiliki banyak definisi. Begitupun dengan
komik, menurut McCloud dalam buku yang saya jadikan referensi ini, Comics is the
word worth defining, at it refers to the medium itself, not a specific object
as “comic book” or “comic strip” do. The Medium – known as comic is a vessel
can hold any numbers of ideas and images.[i] Komik
adalah wadah yang dapat menampung segala macam gagasan dan gambar.
Di mana dengan
komik setiap kata yang dituliskan dapat didefinisikan dengan baik dan menarik. Dalam
komik terdiri dari gambar yang dapat mendeskripsikan kata-kata atau kalimat
yang ada. Karena dalam komik, gambar dan kalimat saling berkaitan. Komik
sebagai medium yang dapat digunakan untuk menyalurkan ide dan gagasan kita
dengan gambar sehingga bentuk real yang dari ide kita akan lebih menarik dari
sekedar susunan kata yang membentuk kalimat panjang. Akan tetapi gambar dan
gagasan tersebut sesuai dengan selera pembuatannya, orang dengan selera animasi
dan imajinasi yang tinggi akan menghasilkan gambar yang bagus. Komik tidak
hanya dapat tercipta dengan sebuah gagasan imajinatif yang bersifat hiburan,
namun komik juga dapat menjadi sebuah media dalam pembelajaran dengan
menyatukan materi atau bahan ajar ke dalam bentuk gambar dan dipadukan dengan
sebuah imajinasi sehingga dapat menghasilkan media pembelajaran yang bernilai
seni.
Dalam bukunya
McCloud juga mendefinisikan komik sebagai gambar-gambar dan lambang-lambang
lain yang terjukstaposisi dalam urutan tertentu, bertujuan untuk memberikan
informasi dan atau mencapai tanggapan estetis dari pembaca.[ii] Juktaposisi
dapat dikatakan seperti berdampingan, berdekatan, bersebelahan. Jadi komik
merupakan urutan-urutan gambar yang bersebelahan. Komik berbeda dengan kartun. Keduanya memang terlihat sama, tapi mereka berbeda. Komik menurut
McCloud merupakan pendekatan ketika membuat film—atau sebuah
gaya—sedangkan kartun adalah media yang sering menggunakan pendekatan tersebut.[iii] Dengan kata lain,
komik adalah metode dalam seni gambar, sedangkan kartun adalah bentuk seni
gambar yang menggunakan metode komik dalam penyampaiannya.
B.
Unsur dan Karakteristik
Komik
Scott mengutip
dalam bukunya mengenai unsur-unsur komik oleh Berger, sebagai berikut [iv]:
1 1.
Cara yang digunakan
untuk menggambar karakter
Seperti yang penulis katakan
sebelumnya, bahwa karakter ataupun gambar yang dihasilkan tergantung dari
imajinasi dan selera sang pembuat karakter tersebut. Karakter dalam komik
adalah hal utama, sebagai pendeskripsi dari sesuatu yang akan dijelaskan di
dalam komik.
2.
Ekspresi wajah
karakter
Di sini adalah saat di mana kita
menentukan ekspresi dari perasaan sang karakter yang kita buat. Misalnya,
ekspresi yang digambarkan saat tersenyum, sedih, marah, atau kaget. Penentuan ekspresi
wajah sang karakter penting, karena itu dapat membantu menegaskan apa yang
disampaikan oleh karakter.
3.
Balon kata
Dalam setiap komik gambar dan kata
menjadi unsur utamanya. Di mana keduanya saling mendeskripsikan satu sama lain.
Di dalam kata inilah materi yang akan kita sampaikan akan diletakkan sesuai
dengan karakter yang berbicara, sehingga menunjukkan dialog antar tokoh.
4.
Garis gerak
Di sinilah karakter yang kita gambar
akan dapat terlihat hidup dalam imajinasi pembaca.
5.
Latar
Menunjukkan pada pembaca konteks
materi yang disampaikan dalam komik.
6.
Aksi dalam kartun
yang terdapat dalam panel
7.
Panel
Panel dalam komik dapat dikatakan sebagai urutan dari
setiap gambar atau materi dan untuk menjaga kelanjutan dari cerita yang sedang
berlangsung.
Selain ketujuh
unsur tersebut, terdapat unsur lain yaitu unsur bahasa verbal. Di mana bahasa
verbal di sini mungkin saja tidak digunakan dalam setiap komik, namun fungsi
bahasa verbal dapat membantu pembaca dalam memahami tema atau bahasan yang
sedang dijelaskan dalam komik tersebut.
Dalam komik
pembelajaran, keseluruhan unsur tersebut sangatlah penting guna menciptakan
sebuah komik pembelajaran yang baik juga mampu menyampaikan pesan kepada
peserta didik, sehingga peserta didik dapat dengan mudah mengingat materi yang
sedang diajarkan. Lalu, bagaimana jika salah satu unsur komik tersebut tidak
digunakan dalam pembuatan komik pembelajaran? Menurut penulis, komik ibarat
sebuah sistem di mana unsur-unsur tersebut merupakan subsistem-subsistem yang
saling bekerja sama dan mempengaruhi dalam terciptanya suatu komik pembelajaran
yang efektif.
C.
Komik sebagai Media
Komunikasi Pembelajaran
Metode
pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran yang paling banyak
digunakan, di mana materi yang disampaikan oleh pendidik kepada peserta didik
hanya sebatas kalimat panjang dan komunikasi verbal. Komunikasi visual adalah proses komunikasi di
mana pesan dalam bentuk gambar atau lambang disampaikan oleh pengirim dan
diterima oleh penerima pesan hanya melalui penglihatan. Yang fungsi utamanya
adalah meningkatkan daya tarik pesan secara visual.[v] Dalam
hal ini media visual dapat memudahkan peserta didik dalam mengingat materi ajar
lebih lama, karena mereka tidak hanya akan mengingat kalimat melainkan
bagaimana kalimat itu dijelaskan dalam bentuk visual.
Media
pembelajaran adalah sebuah medium atau perantara yang digunakan dalam media
pembelajaran sebagai penyampai pesan. Komik sebagai media pembelajaran
diharapkan dapat menyampaikan pesan pembelajaran serta menumbuhkan dan meningkatkan
minat baca pada peserta didik.[vi]
Komik dapat
dikatakan sebagai media pembelajaran jika isinya memenuhi unsur pembelajaran,
jadi tidak hanya aspek menghibur. Selain itu komik pembelajaran juga harus bisa
memenuhi tujuan instruksional dari setiap materi yang ada dalam isinya. Komik
juga tidak hanya dapat meningkatkan minat baca peserta didik, tapi juga harus dapat memotivasi mereka terhadap materi
yang diajarkan. Sehingga semua unsur dalam pembelajaran dalam tercapai dengan
media komik.
Dalam komik juga
dapat diberikan tujuan pembelajaran pada setiap judulnya. Selain itu, di akhir cerita diberikan format
evaluasi dengan tujuan agar peserta didik dapat mengerti apa yang telah dibaca
dan pendidik mendapat feedback dari peserta didik. Selain format evaluasi, juga
terdapat rangkuman yang menceritakan gambaran penting dari materi yang ingin
disampaikan. Jadi, komik tidak hanya sebagai media hiburan semata namun komik
juga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sebagai media komunikasi visual.
D.
Kelebihan dan Kekurangan
Komik
Dari pembahasan
diatas, dapat penulis rincikan beberapa kelebihan dari comic learning ini.
Metode
pembelajaran oleh para guru dalam konteks pembelajaran konvensional saat ini
sangat terbatas dan terlihat monoton. Dimana guru hanya menerangkan kumpulan
kalimat yang ada pada buku sehingga pengalaman belajar yang didapatkan peserta
didik sangat tidak variatif dan merasa belum memahami pesan yang disampaikan
oleh guru. Salah satu kelebihan yang diberikan komik memberikan proses
pembelajaran lebih menarik dengan adanya gambar-gambar yang dapat meningkatkan
kemampuan mengingat peserta didik. Komik juga dapat menarik semangat peserta
didik untuk belajar dan mengajari siswa untuk menerjemahkan kalimat ke dalam
gambar bahkan seolah-olah siswa dihadapkan pada keadaan yang nyata sehingga muncul
efek yang membekas pada siswa dan menambah pengalaman belajar siswa.
Materi yang
disampaikan oleh komik dapat dijelaskan dengan baik, dengan kata lain materi
yang berbentuk gambar dapat menjelaskan keseluruhan materi yang diikuti oleh
ilustrasi gambar untuk memudahkan peserta didik memahami contoh dari materi
yang disampaikan. Selain itu dengan komik juga dapat meningkatkan kecerdasan
visual si peserta didik.[vii]
Dengan melihat dan memahami komik peserta didik dapat menerjemahkan suatu
desain visual ke dalam sebuah imajinasi dan pemahaman mereka sendiri. Dalam
pembelajaran hal ini sangat memudahkan pendidik dan juga si peserta didik.
Intinya komik bukanlah hal yang berdampak negatif jika dijadikan sebagai media
pembelajaran. Meskipun sangat tidak efektif jika comic learning ini digunakan
pada orang-orang berkebutuhan khusus seperti tuna netra.
Tidak semua hal yang kelihatannya baik itu
baik dan mendatangkan manfaat. Comic learning ini juga mempunyai kekurangan.
Komik sebagai
media visual tidak akan terlihat efektif jika digunakan kepada peserta didik
yang tidak dapat belajar dengan media visual., karena pasti setiap peserta didik
memiliki gaya masing-masing dalam belajar. Dengan kata lain media belajar itu
harus menyesuaikan gaya belajar masing-masing peserta didik. Di sisi lain komik
yang berkembang saat ini kebanyakan komik yang mengedepankan aspek hiburan,
dimana isi dari komik tersebut tidaklah sesuai untuk digunakan dalam
pembelajaran. Di nilai dari segi bahasa yang digunakan komik hiburan yang ada
saat ini juga tidak menggunakan bahasa yang baik. Kebanyakan dari mereka
mengangkat cerita tentang cinta, fiksi, hingga komik horor ataupun komik
semiporno. Selain itu komik juga dapat mengurangi daya imajinasi pembaca, di
dalam komik kita tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan atau situasi yang
sedang terjadi pada apa yang kita baja, berbeda dengan buku yang isinya lebih
banyak berupa kalimat panjang, di mana saat kita membaca kita dapat
membayangkan sendiri dari apa yang dideskripsikan oleh penulis dalam
kalimatnya.
E.
Penerapan Comic Learning
Keefektifan komik
dalam penerapannya haruslah sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta
didik, gambar yang akan digunakan dalam komik harus sesuai dengan materi ajar
yang akan disampaikan. Jadi materi
tersebut harus dipersiapkan terlebih dahulu. Comic Learning juga harus terdapat
tujuan instruksionalnya, sebagai patokan dalam melihat kepahaman peserta didik
akan materi yang diajarkan. Selain itu keterkaitan antar unsur-unsurnya juga
harus sesuai dimana nantinya akan tercipta komik pembelajaran yang efektif
(pesan yang tersirat dalam komik dapat sampai dan dipahami oleh peserta didik.
[i] Scott McCloud, Understanding Comics, e-book.
[ii] Ibid.
[iii] Ibid.
[iv] Ibid.
[v] M. Pranata, Ceramah Desain Berbasiskan Kecerdasan Visual.
Jurnal Normana. Vol. 5. No. 2 . Surabaya: Pusat Penelitian UK Petra.
[vi] Dewi S.P,
Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan (Komik sebagai Media
Pembelajaran). Jakarta: Kencana.
[vii] M. Pranata, Ceramah Desain Berbasiskan Kecerdasan Visual.
Jurnal Normana. Vol. 5. No. 2 . Surabaya: Pusat Penelitian UK Petra.
