PRINSIP PERSEPSI


Perception Principles



Kapasitas Persepsi

Kadang, kita sebagai guru atau desainer pembelajaran, kurang sabar dalam membina pembelajaran. Keinginan kita menggebu-nggebu untuk memberikan sebanyak mungkin materi pelajaran kepada peserta didik dalam satu waktu. Akibatnya, terasa pesan yang kita sampaikan menjadi mubazir. Terlalu banyak dan rumit pesan (stimuli) yang bisa dipersepsi oleh peserta didik. Kita lupa bahwa kemampuan mempersepsi seseorang, tidak terkecuali para siswa kita, amatlah terbatas.
Dari itu, Flaming dan Levie mengingatkan tentang beberapa dalil pada prinsip keterbatasan ini yang bisa dimanfaatkan dalam mendesain pesan pembelajaran, di antaranya:
1.       Karena sistem pengelolaan informasi (mempersepsi, menandai, dan menyimpan) pada diri seseorang itu terbatas kapasitasnya, maka besarnya energi yang dibutuhkan untuk menandai suatu stimuli juga terbatas dari pengelolaan informasi lainnya.
Semakin banyak pesan diterima, semakin besar energy yang dibutuhkan, semakin sedikit pesan yang diterima. Buktinya, bahan yang dapat dikodekan disajikan sedikit demi sedikit untuk tujuan pembelajaran, yang memudahkan siswa mengurangi kesalahan pada saat mengencode.

2.       Banyaknya informasi yang diproses bergantung pada dua hal, tingkat keabstrakan objek atau kejadian dan tingkat kedalaman setiap objek itu dikelola.
Beberapa jenis informasi dapat diproses secara dangkal, misalnya tingkat kecerahan, warna, dan perbedaan bentuk. Semakin dalam suatu proses dikelola dan semakin tinggi tingkat keabstrakan suatu objek maka semakin banyak proses yang dihasilkan.

3.       Kita mampu mempersepsi dengan sekilas, sekitar 7 item atau objek yang familiar seperti angka dan nama. Sama halnya kita juga bisa menyimpan dalam memori sementara sekitar 7 item.
Salah satu yang sulit dalam menerapkan prinsip ini yaitu mendefinisikan sebuah item, karena dapat sangat bervariasi. Untuk setiap langkah dalam instruksi tersebut, desainer harus memilih ukuran yang sesuai dengan item, ukuran maksimum menjadi unit yang paling inklusif yang cukup digunakan untuk menciptakan sebuah makna.

4.       Seseorang yang mempersepsi, biasanya memisah-misahkan informasi yang diterima ke dalam katagori besar atau rata-rata berdasarkan banyaknya stimuli, pengalaman dan maksud yang menyertainya. Hal ini biasanya disebut dengan istilah “mengelompokkan” (to chunk, cluster, group).
Seorang siswa yang harus belajar 16 kata baru, mungkin akan mengelompokkan kata-kata tersebut, seperti mengurutkan sesuai abjad, sesuai maknanya, atau sesuai dengan kolom dan baris. Pengelompokan dapat difasilitasi oleh karakter dari stimulus. Sebagai konsekuensi dari urutan (pola, pengelompokan) yang ada, sehingga informasi perseptual lebih mudah diproses, dikategorikan, dan ditindaklanjuti.

5.       Semakin tertata atau terpola suatu pesan itu dipersepsi, semakin banyak informasi yang dapat diterima dan diproses dalam sekali waktu.
Disinilah kecerdikan desainer dalam membuat pesan dibutuhkan. Dengan melakukan pengelompokan dengan terorganisir maka pesan yang dipersepsi oleh audience akan semakin mudah dipahami dan diproses kembali.

6.       Semakin familiar suatu pesan bagi seseorang, semakin mudah untuk dipersepsi.
seorang desainer harus dapat meminimalisir persepsi audience, misalnya dengan menggunakan contoh yang familiar, icon, atau mengacu pada bahasan sebelumnya. Prinsip ini yang paling efektif bagi desainer yang membuat instruksi, karena mereka tahu aspek dari subjek apa yang familiar.

Selanjutnya yang  dipertimbangkan adalah masalah kapasitas yang terkaitan dengan saluran tunggal dan ganda. Beberapa bahan intruksional melibatkan satu saluran atau modalitas seperti penglihatan, sementara yang lainnya memerlukan dua atau lebih saluran atau modalitas.

Kapasitas Saluran Tunggal

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kapasitas persepsi kita sangatlah terbatas jumlahnya, tapi keterbatasan jenis dan akibatnya tetap kita selidiki.
Sebuah aspek dari saluran kapasitas tunggal memiliki kelebihan tersendiri bagi seorang desainer. Pembicaraan sehari-hari umumnya sangat berlebihan dan itu dapat dikurangi tanpa kehilangan banyak makna.

7.       Untuk pesan verbal pada situasi saluran tunggal, semakin sulit atau kompleks suatu pesan verbal, semakin besar keunggulan (persepsual) saluran-visual (tertulis) daripada saluran-auditori (terucapkan).
Hal penting yang harus diingat oleh para desainer, sesuai prinsip diatas, bahwa pesan verbal menimbulkan masalah persepsi  khusus. Salah satunya, tergantung pada waktu dan biasanya memungkinkan pendengar hanya sekali untuk memahami dan sedikit kesempatan untuk latihan. Jika pembaca kehilangan satu kata (dalam membaca), ia bisa berhenti dan melihatnya kembali, tetapi seorang pendengar tidak memiliki banyak kesempatan kecuali ia meminta pembicara mengulangi ucapannya lagi. Masalah pendengaran ini mungkin sulit khususnya dalam situasi pembelajaran.

Kapasitas Saluran Majemuk

8.       Di mana suatu presentasi audio-visual berlangsung terlalu cepat, peserta dalam mempersepsi mesti memilih antara kedua saluran tersebut. Bisa jadi ia lebih memilih informasi-auditori daripada visual, atau sebaliknya. Hanya pada tingkat kecepatan yang lebih lambat ia mampu menghubungkan informasi dari kedua saluran.

9.       Ketika informasi diterima secara bersamaan dari beberapa sumber, salah satunya bisa mengurangi, menguatkan atau mempengaruhi (bias) terhadap yang lainnya. Di sini terjadi suatu interaksi.
Bagaimana Prinsip ini menjelaskan tentang masalah dalam mendesain multimodal tidak begitu jelas. Secara umum ada 2 masalah mendasar dalam pengolahan saluran majemuk. Salah satunya harus dilakukan dengan seluruh kapasitas dalam system persepsi. Yang lainnya yaitu harus dilakukan dengan hubungan timbal bailk antar saluran yang terpisah.

10.   Kapasitas persepsual akan tampak lebih besar ketika dua modalitas, pendengaran dan penglihatan, dimanfaatkan secara bersamaan. Pelibatan dua pekerjaan (auditori dan visual), misalnya akan lebih saling menguatkan daripada memanfaatkan modalitas visual secara terpisah dengan modalitas auditori.

Pembedaan dan Pengelompokan

Proses mempersepsi dan membuat kategorisasi tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan yang kita terima dari lingkungan kita. Salah satu tugas primer dari desainer pembelajaran adalah menggubah terjadinya persepsi terhadap pelbagai kebiasaan tersebut. Hal ini memungkinkan terjadinya penguatan terhadap kebiasaan-kebiasaan itu agar tampak lebih dominan untuk dipersepsi.
Di sini kebiasaan demikian penting karena tiga alasan. Pertama, kebiasaan yang kita terima memungkinkan kita untuk membuat kategorisasi, dan darinya kita dapat menangani (melakukan sensasi/penginderaan terhadap) banyaknya informasi yang membombardir kita. Kedua, kebiasaan  yang kita terima merupakan dasar bagi sejumlah pengetahuan: fakta, konsep, opini, dan sikap. Dan terakhir, mengorganisir pesan merupakan salah satu tujuan utama desainer dalam mempengaruhi persepsi peserta didik terhadap pelbagai kebiasaan tersebut.
Medan perseptual itu diorganisir, dan kebiasaan menjadi nyata melalui proses analisis dan sintesis. Pada tindakan analisis, kita biasa melakukan pembedaan atau pemisahan. Sedangkan pada tindakan sintesis, kita melakukan pengelompokan dan pengkombinasian.

11.   Objek atau peristiwa itu dimaknai berlainan karena memiliki perbedaan satu atau banyak dimensinya. Dari itu dalam mempersepsi, seseorang cenderung untuk membeda-bedakan satu objek/peristiwa dengan lainnya lalu mengelompokkannya secara terpisah.
Proses mengamati perbedaan akan dibantu oleh bahan pengajaran dimana perbedaan antar objek, kejadian, atau pemikiran diperjelas. Lebih khusus lagi, perbedaan yang timbul harus relevan. Perbedaan persepsi sering digunakan dalam desain pesan untuk memisahkan. Perbedaan persepsi juga berfungsi untuk menonjolkan bagian-bagian penting dari pesan atau tanggapan tersebut.

12.   Objek atau peristiwa itu dimaknai mirip karena memiliki persamaan dalam beberapa hal seperti tampilan, fungsi, jumlah, arah dan strukturnya. Dari itu, dalam mempersepsi seseorang cenderung mengelompokkan objek/peristiwa dan mengorganisirnya dalam kemiripan.
 Jelas, banyak cara di mana dua hal itu muncul untuk menunjukkan karakteristik umum, semakin besar kemungkinan mereka dianggap berhubungan, sebagai bagian dari sebuah kategori. Prinsip persamaan itu sesuai dengan konsep pembelajaran, yang  menunjukan bahwa berbagai macam konsep harus disajikan sekaligus sehingga kesamaannya dapat didefinisikan dengan jelas.

13.   Bentuk dan pola sepenuhnya dibedakan dari kelompoknya, unsur-unsur di dalamnya cenderung sama daripada kenyataannya. Lebih dari itu, pembedaan antara satu pola dengan lainnya akan diperkuat.
Pada dasarnya, persamaan dan perbedaan dipersepsikan lebih baik dari pada yang sebenarnya sudah ada. Perbedaan di antara sebuah bentuk dan latar mungkin,  lebih stabil, dan contrast yang dialami lebih baik dari yang sebenarnya. Begitu pula pada persepsi social, kita cenderung melebih-lebihkan perbedaan diantara yang kita suka dan yang tidak.

14.   Benda dan peristiwa yang saling berdekatan, dalam ruang, waktu maupun dalam konteks yang sama, cenderung dianggap saling berkaitan, seperti pembentukan, penggunaan dan sebagainya.
Suatu hal yang muncul berdekatan baik dalam ruang dan waktu cenderung dianggap sebagai bagian dari kategori atau sebagai pembentukan atau sesuatu yang berkaitan. Buktinya, salah satu yang dominan cenderung tetap meskipun yang lainnya sama kuat. Kedekatan waktu bisa menciptakan sebuah persepsi yang kuat. Kedekatan sangatlah penting karena tidak hanya mengkondisikan stimulus untuk dipersepsi tapi juga untuk pembelajaran, meskipun dibawah label yang  berbeda, ini dinamakan kedekatan/kontiguitas. Peristiwa yang berdekatan dianggap saling berkaitan atau dapat dipelajari.

15.   Benda yang familiar biasanya mempertahankan karakteristik perseptualnya (kecerahan, ukuran, bentuk, warna) dari perubahan saat menjadi stimuli. Inilah yang disebut Ketetapan Perseptual.
Masing-masing ketetapan perseptual tersebut dapat dianggap semacam konsep yang melibatkan persepsi keteraturan atau bervariasi dalam kondisi yang beragam (Forgus, 1966). Objek yang biasa kita lihat, meskipun sedikit dan bervariasi, dianggap memiliki unsur layaknya sebuah objek. Meskipun keadaan seperti ini sangat berbeda dalam menafsirkan sesuatu yang baru. Disini mungkin perlu mengenalkan ukuran relative, tampilannya, dan warna yang akurat.

Menghubungkan dan mengorganisir
Selain kebiasaan untuk mempersepsi perbedaan dan persamaan, kita juga bisa menghubungkan objek atau peristiwa yang hendak kita persepsikan. Beberapa benda akan dikategorikan sesuai dengan kondisi stimuli. Ini khususnya kondisi hubungan yang renggang atau sementara antar benda, dan mereka menjadi tipe yang mendasar dari persepsi sebab-akibat, sebelum dan sesudah, baik dan buruk.

16.   Persepsi tentang hubungan akan terjadi manakala antar objek atau peristiwa -dilihat dari ide dasar, pola, ritme, struktur, atau keorganisasiannya bertemu dan saling memberi satu sama lain.
Di sini bagaimana sebuah stimulus yang sudah dibentuk akan dipersepsikan menjadi sebuah bentuk lagi.  Mungkin saja akan terjadi banyak kesalahan, namun banyak alasan untuk membentuk  sebuah desain pesan. Bagaimana para pendengar kita dapat memahami pesan yang diberikan tanpa ada keambiguan.

17.   Variasi susunan ruang dan waktu, pola, atau struktur mempengaruhi persepsi tentang hubungan.
Dalam hal ini ada 5 tipe susunan yang biasa dimanfaatkan dalam membuat variasi tingkatan untuk menunjukkan hubungan antar objek yang bervariasi.
a.   Proximity (kedekatan)
Bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik dalam ruang dan waktu) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai suatu bentuk tertentu.

b. Inclusion (penyertaan)
Indikator dari sebuah penyertaan adalah lingkaran, persegi, atau bebas dari berbagai macam jenis. Susunan ini memberikan kualitas pada bentuk yang bagus.

c. Directionality (arahan)
Bukti bahwa seseorang menganggap hubungan sebab dan akibat sebaik hubungan sebelum dan sesudah di hubungkan dengan unsur visual kiri –kanan dengan garis, dan akibatnya diperkuat dengan penggunaan tanda panah (Fleming, 1968).

d. Superordination (peningkatan)
Unsur visual ditempatkan di paling atas mungkin di persepsi memiliki hubungan dengan unsur dibawahnya. Buktinya bahwa kata yang ditempatkan di atas mungkin dipersepsikan “lebih baik” daripada “lebih buruk” dibandingkan dengan yang ditempatkan di bawahnya (De Soto et al., 1968).

e. Accentuation (penekanan)
Sesuatu yang digunakan untuk memberikan penekanan pada suatu bagian dari pesan biasanya diberi tanda: panah, garis bawah, perbedaan ukuran dan tipe kata, dan warna. Fungsi ini terutama dengan memberikan persepsi kontras.

KESIMPULAN

Hubungan timbal balik antar kesulitan dalam pengkodean dan kapasitas persepsi itu sangat penting. Semakin sulit suatu pesan dipersepsi dan dipelajari, lebih sedikit kapasitas yang tersisa untuk memproses informasi tambahan.

Tiga prinsip persepsi yang utama adalah kesamaan, perbedaan dan kedekatan. Mudahnya, sesorang mengelompokan hal yang sama dan memisahkan hal yang berbeda. Dan prosesnya dipengaruhi oleh kedekatan ruang dan waktu dari hal ini. Konsepnya berdasarkan kesamaan, tetapi belajar menggunakannya dapat bergantung pada perbedaan yang dibedakan antara satu konsep dengan konsep lainnya. Sejumlah prinsip yang lebih spesifik untuk pengorganisasian, penataan dan pemolaan pesan diberikan dan dibahas pada bagian struktur ruang dan waktu.

0 comments: