“It’s not the delivery medium,
but rather the instructional methods that cause learning”
― Clark and Mayer (p. 14)
E-learning adalah primadona dalam pendidikan
abad 21. Saat ini, semua orang hidup dalam era tranformasi digital dan dunia
pendidikan sedang mengalami revolusi e-learning. Konsep e-learning memberikan
kita kesempatan belajar yang efektif, efisien dan menarik (synchronous or asynchronous) melalui teknologi jaringan dan
komputer. Saat ini, meskipun e-learning sudah diterima dan dianggap sebagai hal
yang umum oleh sebagian orang, dan bahkan telah diterapkan, tetapi konsep
e-learning sendiri masih dalam tahap pertumbuhan dan bergerak dengan sangat
cepat baik pada teori dan prakteknya. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan yang
semakin berkembang untuk dijadikan rujukan dan sumber yang berkaitan dengan
e-learning di setiap aspeknya.
Pada buku ini Clark and Mayer mendefinisikan
E-learning sebagai pembelajaran yang
disampaikan melalui perangkat digital seperti komputer atau perangkat mobile
yang ditujukan untuk mendukung pebelajaran. Dalam definisi ini terdapat
beberapa elemen mengenai apa, bagaimana dan mengapa e-learnig?
Apa.
E-learning mencakup keduanya baik konten (informasi) dan metode pembelajaran
(teknik) yang membantu orang untuk belajar. Bagaimana. E-learning disampaikan melalui perangkat digital seperti
komputer dan smatphone menggunakan kata-kata dalam bentuk lisan atau cetak dan
gambar. Salah satu bentuk e-learning dinamakan asynchronous yang dirancang
untuk belajar mandiri. Bentuk lainnya seperti kelas virtual, webinar, atau
synchronous yang dirancang untuk pelatihan yang dipimpin oleh seorang
instruktur. Mengapa. E-learning
ditujukan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran mereka atau
meningkatkan kinerja mereka pada suatu organisasi. Lalu, bagaimana e-learning
yang efektif, efisien dan menarik ini?
MENERAPKAN PRINSIP MULTIMEDIA
Gunakan kata-kata dan grafik, dibanding kata-kata saja. Clark and Mayer menjelaskan bahwa dalam
e-learning akan lebih efektif jika menggunakan kata-kata (baik itu tulisan ataupun
lisan) dan grafik (gambar diam, seperti foto dan diagram ataupun grafik dinamis,
seperti animasi dan video) bersama-sama daripada menggunakan kata-kata saja. Mereka
menunjukkan bahwa menggunakan presentasi multimedia akan mendorong peserta
didik untuk terlibat dalam pembelajaran aktif secara psikologis dengan merepresentasikan
materi kedalam kata-kata dan gambar dan dengan membuat suatu hubungan antara
representasi verbal dan visual. Hal ini juga menjelaskan bahwa orang-orang
dapat belajar lebih baik ketika grafik ditambahkan kedalam teks.
MENERAPKAN PRINSIP KEDEKATAN [CONTIGUITY]
Sejajarkan kata-kata dengan grafik yang berkaitan. Berdasarkan prinsip ini, sangat
baik untuk mengintegrasikan teks dan grafik (seperti menempatkan kata-kata
tercetak berdekatan dengan grafik yang menjelaskannya atau tampilkan kata-kata
lisan bersamaan dengan grafik yang berkaitan) sebagimana hal ini mengurangi
penggunaan sumber belajar daripada memisahkannya.
MENERAPKAN PRINSIP modalitas
Tampilkan kata-kata sebagai narasi audio daripada teks pada layar. Prinisp ini menyatakan bahwa
menggunakan kata-kata singkat dan narasi sudio yang jelas dapat meningkatkan
belajar secara signifikan daripada teks pada layar.
MENERAPKAN PRINSIP redundansi
Jelaskan visual dengan kata-kata atau audio: jangan keduanya. Prinsip ini menyarankan untuk
menjelaskan suatu tampilan visual dengan kata-kata dalam audio atau teks saja,
tetapi tidak keduanya secara bersamaan. Hal ini juga menunjukkan bahwa individu
dapat belajar lebih baik dari grafik dan audio bersamaan daripada grafik,
audio, dan teks pada layar secara bersamaan, karena hal kedua ini terkesan
boros dan dapat memecahkan perhatian individu itu. Selain itu, prinsip ini juga menganjurkan
bahwa keuntungan psikologis dari menampilkan kata-kata dengan audio saja
memungkinkan kita untuk menghindari kinerja berlebihan dari saluran visual seseorang.
MENERAPKAN PRINSIP koherensi [kesesuaian]
Menambahkan material dapat mengganggu belajar. Menurut prinsip koherensi,
menambahkan berbagai bahan/materi yang tidak mendukung bahkan tidak ada hubungannya
dengan tujuan pembelajaran tidak membantu apa-apa. Hal ini menjelaskan bahwa
menambahkan hal yang menarik (unsur yang menghibur atau memotivasi seperti
ceita yang dramatis, gambar-gambar, atau musik latar) tetapi material yang
tidak penting pada e-learnig dapat membahayakan proses belajar.
MENERAPKAN PRINSIP PERSONALISASI
Gunakan gaya percakapan dan coach/pelatih virtual. Prinsip ini mendukung pandangan
yang menggunakan penulisan dengan gaya percakapan (termasuk menggunakan bahasa
orang pertama dan kedua) dan suara manusia yang ramah. Prinsip ini juga
menggarisbawahi bahwa penggunaan coach virtual/agen virtual sangat efektif. Karakter
pedagogis pada layar yang membantu untuk mengarahkan/memandu proses belajar
selama pembelajaran berlangsung dan mendorong peserta didik untuk terlibat
dengan dengan komputer, sebagai rekan percakapan sosial. Dalam hal ini, peserta
didik tetap dapat berinteraksi dengan agen virtual tersebut, seperti ia
berinteraksi dengan guru di dalam kelas.
MENERAPKAN PRINSIP SEGMENTASI DAN PRA-PELATIHAN
Mengelola
kompleksitas suatu pelajaran dengan memecahnya menjadi bagian-bagian. Prinsip ini berfokus pada teknik untuk mengatur proses
yang sangat penting, termasuk segmentasi (memecah suatu bahasan menjadi
segment-segmen yang dapat dikelola) dan pra-latihan (menyediakan pra-latihan tentang
nama dan karakter tentang kata kunci dari suatu konsep).
MEMANFAATKAN CONTOH PADA E-LEARNING
Menerapkan prinsip multimedia untuk pemodelan/contoh
kerja, yang digunakan untuk tugas-tugas yang melibatkan pemecahan masalah dan
beberapa solusi yang tepat.
Does practice make perfect?
Belajar yang lebih baik biasanya
terjadi dengan adanya interaksi dalam e-learning. Jadi, adalah suatu keharusan
untuk menyebarkan interaksi melalui lingkungan pembelajaran dan menerapkan
prinsip multimedia Mayer untuk rancangan dan tampilan dari interaksi yang ada
di e-learning. Di sisi lain, hal ini juga dianggap penting bahwa ketika suatu
latihan tidak mengarah pada “kesempurnaan belajar”, membuat latihan yang terdapat
umpan balik yang efektif dapat membuatnya “sempurna”. Walau begitu, bukan
berarti harus memberikan latihan dalam porsi yang banyak, tetapi secukupnya
saja namun dapat meningkakan kinerja.
